Ini tentang suatu penantian. Suatu harapan, akan sesuatu yang besar melebihi apapun dalam duniaku.
Ini tentang kasih tak terbendung seperti ombak yang telah bergulung tapi tak pernah pecah di pesisir.
Ini bukan tentang seseorang lagi, tapi banyak orang, banyak kisah dalam satu kejadian.
Ini tidak membicarakan sebatas dari matahari terbit atau purnama-purnama yang lain karena aku memang tak pernah menghitung telah berapa mentari berlalu.
Suatu malam lewat dalam duniaku. Dimana aku menghadap selembar kertas buram dan kuning. Aku yakin bahwa kertas itu pernah melewati ribuan petang bahkan melewati usiaku. Kertas ini membawaku masuk ke ruang waktu, jauh melampaui hari di mana aku memilih bumi sebagai tempat tinggal. Tapi seakan tak mengijinkanku untuk melangkah lebih jauh lagi, kertas ini sempurna membungkamku.
Aku tertunduk.
Aku berusaha meyakinkan diriku.
"Kertas hanyalah kertas. Ini tidak berarti apa-apa. Percayalah pada dirimu sendiri, "
namun aku kalah.
Cahaya merah dan pedih berhasil membuat pembuluh vena di hatiku putus. Sakit.
Darah yang tak mengalir ke hati terdistraksi ke otakku.
Kini aku marah dan menatap dunia dengan berbeda. Aku menyaksikan kesempurnaan di sekitarku, tapi seakan dunia membawa hitamnya hanya padaku saja.
"Biar, biar saja aku sendiri," dan setetes demi setetes air telah sampai di pelupuk mata. Aku menyerah dan tidak memiliki kuasa akan apa yang terjadi.
Maka malam yang tak pernah dibayangkan itu berakhir di keesokan harinya. Waktu gelap memang cepat berakhir, tapi hati yang gelap tak semudah itu.
Kini pertanyaannya, apakah benar lubang hitam di angkasa sanggup menelan segalanya? Mengapa hatiku tidak?
Lama ga mampir, sendu juga ye postinganmu lama-lama ��
ReplyDeleteIya nih, non :( makaci dah mampir
Delete