Matahari belum beranjak dari persembunyiannya. Semilir angin bekas malam tadi masih terasa di pundak berlapiskan jaket tebal. Seruak teriakan awak-awak kapal masih terdengar pekat. Bunyi sirine kapal dan air laut yang terus bergerak seakan enggan beristirahat. Ya, kegiatan sebuah pelabuhan.
Malam itu aku dan keluargaku hendak meninggalkan sejenak hiruk pikuk pulau Jawa. Kami memutuskan untuk melalui jalan darat dan melintasi lautan. Ini merupakan perjalanan pertamaku di lautan dan menikmati suasana persinggahan kapal. Antusias dan rasa berdebar memenuhi perasaan dan pikiranku ketika pertama melangkahkan kaki keluar dari bis yang membawaku ke pelabuhan Ketapang.
"Kacang, kacang, kopi panas," teriak seseorang di ujung sana. Mata dan telingaku menyimak suasana pelabuhan dan suara-suara teriakan itu sangat mendominasi. "Mas, Kapal Api
ne siji, " ujar Ayahku kepada seorang pemuda yang membawa banyak barang di bahunya. Ada termos, rentengan kopi Kapal Api, juga ada kacang, dan beberapa cemilan serta maknanan instan lain.
"Kok dia jualan
kayak gitu, Pak?
Kan berat? Mas,
kok jual Kapal Api saja?" ujarku polos, belum paham makna mencari satu dua suap nasi. "Memang sudah biasa ada penjual seperti ini di pelabuhan." jawab Ayahku singkat. Di tangannya sudah ada segelas kopi hitam hangat Kapal Api Spesial. Kemudian, ia sibuk dengan kegiatannya menyeruput kopi dari gelas plastik. Sementara teman-teman Ayahku yang lain juga tak ingin kalah, menyerbu dagangan milik mas-mas pemikul termos tersebut.
***
Kisah di atas adalah sepenggal pengalaman unikku dengan kopi Kapal Api. Bertemu cara baru berjualan kopi. Pada awalnya aku selalu penasaran, mengapa Ayah dan juga kakekku tidak ingin mengganti merek kopinya. Begitu juga para penjual itu,
kok hanya menjual kopi Kapal Api saja. Aku pikir
kan masih banyak merek-merek lain.
Kemudian seiring berjalannya waktu, aku beranjak dewasa. Aku mulai bisa mencicipi kopi. Bahkan diusiaku yang 19 tahun ini, kopi sudah menjadi sahabatku di tengah-tengah tugas kuliah yang menumpuk. Kini aku akhirnya telah memahami mengapa Ayah dan kakekku tidak bisa melepas aroma hangat Kapal Api serta citarasanya, mengapa Kopi Kapal Api Jelas Lebih Enak. Kini aku juga mengerti mengapa mas-mas pemikul termos hanya menjual Kapal Api saja.
1. Kopi Kapal Api Melegenda
Ternyata apa yang aku alami di pelabuhan merupakan adegan yang mirip dengan awal terciptanya kopi Kapal Api. Dimana pada zaman terciptanya, kopi ini dinikmati para pelaut di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Kopi bubuk dijual dengan pikulan kayu dan sepeda kemudian penjualnya mengelilingi kampung. Tak heran jika pelanggan setia Kapal Api masih setia termasuk keluargaku, bahkan tradisi yang terjadi di pelabuhan pun masih berlanjut hingga kini.
2. Kopi Kapal Api Membawa Kebahagiaan di Setiap Suasana
Ketika lelah bekerja, bosan, gundah gulana, atau asyik dengan teman, kopi adalah sasaran anak muda masa kini. Bagiku Kopi Kapal Api sudah lengkap memenuhi semua suasana di hari-hariku sebagai anak muda yang memiliki berbagai warna kejadian setiap saatnya.
3. Kopi Kapal Api Memahami Aku
Di era milenial ini, kopi menjadi minuman mahal yang harganya menyaingi harga makanan. Sedih bagiku sebagai penikmat kopi tapi terhalang oleh ongkos. Namun cukup hasratku menyeduh kopi dengan Kapal Api saja yang jelas lebih enak dan harganya sangat terjangkau. Soal rasa, tetap Kapal Api Lebih Enak dan setia memahami nasib mahasiswa pecinta kopi.
Itu lah bagiku mengapa Kopi Kapal Api akan terus mengalir di ranting kehidupan keluargaku. Aku yakin banyak keluarga-keluarga lain yang sama juga dengan keluargaku dan setiap keluarga memiliki kisahnya sendiri tentang suatu kopi yang luar biasa ini.
Bagaimana ceritamu? Silahkan buka
https://waktunyakapalapi.com
#KopiKapalApi
#JelasLebihEnak
#KapalApiPunyaCerita