Gemericik air hujan lengkap menemaniku menyusuri jalanan yang terbilang ramai di kota Yogyakarta. Semilir angin membawa percikan air membasahi ujung rambutku di balik helm.
Ini malam yang indah, pikirku kala itu.
Sejenak, sembari mendengar bisikan orang bercakap dengan teman mereka dan nomor lampu perempatan jalan terus berkurang, ku senandungkan lagu kesukaanku.
"I miss you when I can't sleep or right after coffee or right when I can't eat..."
Sempurna dan sendu.
Hingga, lampu perempatan jalan berwarna hijau terang, kembali ku putar pedal gasku dan melaju menyusuri jalanan ramai itu.
Malam terlalu larut, kedai-kedai dan warung-warung kecil sudah mulai menggulung dagangan mereka, beberapa pekerja sudah banyak yang menyampirkan jaket mereka di tubuh. Bersiap pulang.
Namun ada satu stand kecil di pinggir jalan yang masih buka, dahagaku yang haus tak terkendali semenjak dari kampus tadi menggelitikku untuk mampir sejenak membeli satu cangkir es coklat.
"Mas, es coklat susunya satu ya.... eh..."
Aku nyaris tersedak jika saja aku sedang memakan sesuatu saat itu, namun aku hanya memakan angin malam jadi tidak efek menakjubkan, ya, aku hanya terkejut.
Tak kusangka bahwa pedagang es coklat yang masih bertahan hingga malam itu adalah temanku.
***
Temanku ini adalah temanku dari kelas satu SD. Teman yang istimewa sekali, bukan?
Sayangnya bukan.
Harus kuberitahu bahwa ia pindah sekolah pada kelas dua SD, bagi otak anak kecil sudah sepantasnya ketika beranjak remaja aku akan melupakan temanku ini.. Tapi, tidak.
Temanku ini cukup istimewa, dia sungguh unik.
Dia ini berbadan besar sekali, suaranya yang seperti belum lancar bicara kala itu terdengar lucu. Namun dibalik suara lucunya itu tersimpan amarah besar.
Ya, dia suka memukuli teman-temannya di sekolah.
Dia nyaris tak memiliki teman kala itu, dia suka menjabak, memukul, dan banyak hal kasar lain. Aku juga cenderung tak suka dengannya, walau dia baik padaku dan aku ingat sekali dia pernah memberiku hadiah gantungan kunci yang ibunya buat sendiri ketika aku ulang tahun entah yang ke berapa. Sungguh kepindahannya saat itu membahagiakan banyak orang. Disusul murid-murid baru yang menggantikannya, maka tak berbekas lagi memori tentang dia.
Tahun terus berganti, masa-masa sekolah dasar sungguh membawa banyak perubahan di tiap jenjangnya khususnya karena sekolahku selalu menerima siswa baru di tiap tahunnya, masuk kelasku dan banyak juga yang keluar.
Hingga ku sampai pada penghujung sekolah dasar, ya, kelas enam SD. Yang katanya sudah mau masuk masa remaja. Di awal tahun ajaran baru itu, sepulang sekolah pada hari pertama masuk sekolah, rumahku kedapatan telepon berdering.
"Halo..." sapa ibuku.
Dan ketika telepon ditutup, akhirnya aku tahu bahwa itu adalah telepon dari temanku.
Iya, dia yang telah pergi selama empat tahun.
Katanya dia akan berkunjung kembali ke Yogyakarta dan mau bertemu teman-teman lama. Tanpa berpikir panjang dan mengingat-ingat darimana dia mendapat telepon rumahku, ku siarkan berita tersebut ke penjuru kelas.
Ada yang bertanya "Siapa dia? Kok aku lupa"
"Ha? Ngapain dia ke sini?"
Yang aku ingat, tidak ada respon positif.
Kemudian, tiba lah hari kedatangannya. Dia datang dengan wajah sumringah, bentuk badannya tak berubah, cenderung semakin besar. Yang aku terkejut, dia mampu menyapa semua nama di kelasku pun tak terkecuali.
Bahkan, ini sudah lewat empat tahun, ketika banyak yang sudah lupa dengannya.
Kembali lagi semenjak dia membuat reuni kecil bagi dirinya sendiri, tak ada lagi dari kami yang berkomunikasi dengannya hingga kami lulus dari sekolah kecil di pinggiran kota tersebut.
Tahun kembali berputar, ribuan kejadian terlewati hingga pada pertengahan masa SMA, di zaman yang serba mudah dalam mencari orang, ketua kelasku pada zaman SD berhasil membuat grup LINE dan kami pun saling terhubung walau di antara kami ada yang saling melupakan.
Oh ya, temanku yang ku ceritakan juga masuk.
Semenjak ada grup itu, jujur aku pribadi terganggu. Mereka sungguh berisik sekali, ada yang berkenalan lagi seolah-olah baru pertama kali mengenal, ada yang mewacanakan reuni dan lain sebagainya.
Tak terkecuali temanku itu, dia lebih parah. Ia menambahkan ku jadi teman LINE nya dan chat via private. Memang jujur saja, semenjak SD dulu dia paling akrab denganku, mungkin faktor orang tua kami saling kenal, biasa ibu-ibu SD.
Lagi-lagi dia mewacanakan akan reuni, dimana dia saat itu sudah di Yogyakarta. Tanpa basa-basi dia mengajakku main.
Singkat cerita, akhirnya kami ke toko buku dekat rumahku. Aku sedikit lupa dengan wajahnya, wajar saja, kala itu sudah lima tahun aku tidak bertemu dengannya dan semenjak pertemuan itu dia selalu mengechatku nyaris setiap hari. Waktu itu ada seseorang yang dekat denganku, bahkan sampai membuat seseorang tersebut salah paham. Akhirnya tidak ada pilihan lain, dia ku block.
***
"Kamu? Kok kamu jualan di sini? Bukannya kamu tinggal di luar kota?"
Beberapa pertanyaan langsung memenuhi pikiranku, ingin rasanya ku tumpahkan semua saat itu.
Tapi terhenti ketika ia menjawab....
"Iya. Orang tua ku pisah lagi. Jadi aku kembali ke Jogja sama ibuku. Aku tinggal di rumah nenekku, hehehe, kamu tahu kan? Lumayan lah buat nambah uang jajan"
Aku terhenyak, suaranya sangat santai.
"Eh gimana kuliahmu? Kamu kuliah dimana sih? Doain aku ya tahun depan aku mau coba tes di sini."
"Oh iya, kok LINE mu ga bisa dihubungin sih? Eh kamu sibuk ya, ciye anak sibuk sekarang."
Aku sungguh terpaku.
Tidak bisa berkata-kata.
Sementara dia terus bicara dan menanyakan tentang diriku.
Seakan masa lalu memutarku kembali dimana aku bisa melihat kebaikan di dalam amarahnya ketika umurnya baru tujuh tahun an. Dimana dia bisa menghapal semua teman sekelas ketika kami melupakannya. Mengapa ia mau pindah sekolah saat itu? Mengapa dia rela meninggalkan kami ketika ia sesungguhnya tidak mau pindah? Mengapa dia suka mengganggu kami? Mengapa ia suka memukul? Mengapa ketika beranjak dewasa, ia seolah-olah butuh perhatian dengan private chat beberapa di antara kami dalam grup SD tersebut?
Terjawab semuanya.
Maka malam itu ku akhiri gerimis rintik tersebut dengan perasaan kaku. Entah es coklat yang dingin bisa semakin mendinginkan diriku, tapi aku tak merasakan apapun.
No comments:
Post a Comment