Memang aku pengecut, sampah jalanan yang siap ditendang menuju peraduan yang busuk selamanya.
Aku tidak bisa, mengerjakan ini semua ketika badai selalu datang, bukan salah, ketika aku memang tidak mau.
Aku tidak bisa, ketika yang aku mau tidak ada, yang aku suka tidak lagi seperti yang kusuka, yang ingin kutinggal masih selalu menghantui layaknya pasir pantai yang menggerogoti setiap celah benang celanaku.
Aku tidak bisa, ketika semua semua semua semua dan semua yang aku tidak mau haruslah aku mau.
Aku juga tidak mau, ketika harus ditendang kembali jauh ke dasar jurang terdalam yang pernah menertawanku, aku bodoh, aku bodoh, dan hanya aku yang bodoh.
Aku tidak mau mengingat jawaban iya lagi pada pertanyaan yang kujawab iya, kala itu, tapi iya itu berubah menjadi duri-duri tajam, sangat tajam, yang terus menusuk diriku mungkin hingga selama-lamanya, tapi pertanyaan itu tiba-tiba datang lagi kemudian memaksaku untuk menjawab iya, seolah kamu harus memilih lompat sendiri atau harus didorong untuk jatuh kedua kalinya lagi.
Kemudian untuk yang terakhir sebelum seorang sampah ini siap terjun, aku tidak mau membuang begitu saja berlian berhargaku dari mata air terbaik di dunia ini untuk yang kedua kali.
No comments:
Post a Comment