Saturday, September 10, 2016

Kalah

Ketika dapat melihatmu saja terasa seperti sebuah prestasi
Kenapa aku harus berharap lebih?

                                                                  ***
Matahari menyingsing
Angin berhembus di sayap timur, menyibak indahnya pagi saat itu.

Tak terasa waktu berjalan cepat, hingga tergopoh aku di dalamnya.
Keringat memenuhi peluh, karena matahari tak lagi memeluk hangat tapi telah menampar.
Aku berjalan cepat, hasrat ingin segera pulang sangat bergejolak dalam hati. Aku lelah juga lapar.

Saat ini detik terasa berhenti, hingga ke jantungku.

Sesosok manusia berhasil menghalangi langkahku, ia persis berjalan mantab di hadapanku. Berdiri cukup gagah sembari melempar jaket ke punggungnya yang tingginya melebihiku.
Saat itu juga, jiwaku terasa berhenti di tempat tapi fisikku berkata lain. Aku tetap berjalan di belakangnya.

Seketika saat itu, aku tak mempedulikan jantungku yang berhenti atau pun badanku yang terus berjalan di belakangnya.
Tapi yang aku ingat persis saat itu, entah mengapa hatiku ikut bereaksi. Lebih tepatnya seperti terluka tanpa alasan.

Siapa dia?

Seseorang yang aku kenal, yang untuk pertama kalinya dalam hidupku aku merasakan betapa tidak pantasnya aku untuk seseorang. Ketika aku suka melihatnya, tapi perasaan takut lebih mendominasi.
Intinya ketika melihat orang itu, aku selalu berkontemplasi ke arah negatif.

Kemudian setelah hari itu, aku semakin berkontemplasi dan saat ini aku telah berhenti. Aku sungguh telah berhenti, Aku telah kalah dengan pikiranku sendiri.

Selamat tinggal.

No comments:

Post a Comment