Tuesday, March 8, 2016

Distance

Aku benci jarak di antara kita.


Jika boleh jujur, aku bingung ketika hendak menulis kalimat awal sebagai pembuka blog ini.
Yang terlintas di kepalaku hanya lah, aku benci akan jarak yang jauh.

Jauh dari kata itu pun, ketika pergi piknik bersama teman saja aku banyak mengeluh, kenapa tak lekas sampai, kenapa ini jauh sekali, aku sudah tidak tahan, rasanya ingin berhenti saja.

Atau ketika aku melihat harga-harga tiket pesawat, transportasi penyingkat waktu, yang mahal tak terkira harganya untuk menghemat beberapa jam waktu perjalanan juga membuatku mengeluh,

Membuatku semakin membenci jarak.

Namun semakin aku beranjak dewasa. Aku semakin paham apa arti jarak sesungguhnya. 
Jarak secara geografis bukan lah sesuatu yang dapat disesalkan, karena sama sekali tak berguna. Jarak yang jauh juga membuktikan luasnya bumi ini yang berarti banyak manusia baru nanti yang dapat memiliki tempat hidup.

Jadi apa jarak itu?

Ya, jarak dengan dirimu.

Siapa kamu?

Banyak.

Dengan keluarga, saudara, teman, kekasih.

Tak ada yang lebih menyedihkan dari makna jarak selain subjek-subjek yang aku sebutkan di atas tadi.
Bahkan jarak tak selalu berhubungan dengan tempat, tapi juga hubungan.

Aku benci ketika aku harus berjarak dengan ibuku, misalnya. Itu membuatku gelisah dan tak tenang saat di rumah. Atau dengan kakakku, rasanya membuatku kesal dan selalu ingin marah.

Atau dengan saudara-saudaraku, aku bahkan tidak begitu akrab dengan mereka. Diantaranya hanya akrab ketika kami masih kecil saja. Sekarang beranjak remaja kami seakan telah menutup masa ceria kita di lapangan luas.

Atau dengan teman, saat itu juga dunia berasa kelam apalagi jika teman itu adalah teman terdekat kita. Perasaan tak tenang dan ingin segera meminta maaf. Tapi rasa gengsi selalu melampaui jarak sejauh apa pun kondisi itu.

Atau dengan seseorang yang dekat dengan kita, dengan seseorang yang dapat dengan mudah membuat kita tersenyum sepanjang waktu. Rasanya segala jarak selalu menghalangi keberadaan kita ketika lagi bersama dengan dia.

Iya begitu.

Tapi dengan jarak lah kita tahu apa itu garam dalam semangkuk sup hangat.



Teruntuk Mars
Semoga jarak tak akan menghalangi kita.

No comments:

Post a Comment