Pernah ga sih kalian ngerasain yang namanya sakit terdalam sampai ke ulu hati? Seperti putus cinta misalnya?
Sadarkah kalian jika sebagian dari sakit itu disebabkan oleh pengorbanan yang sia-sia. Misalnya selama ini kamu selalu traktir doi, eh taunya cuma difriendzone in. Padahal uang nraktir itu adalah tabungan jerih payahmu.
Itu memang menyakitkan. Tapi di sini aku mau cerita pengalamanku tentang pengorbanan sia-sia, yang bagiku adalah hal paling menyakitkan hingga detik ini. Memang bukan tentang cinta, tapi tentang persahabatan.
Pengorbanan sia-siaku ini mungkin bisa dibilang pengorbanan yang bodoh dan gegabah yang aku pikir diakibatkan suasana dan cuaca pada saat kejadian berlangsung. Jadi pengorbanan ini bukanlah pengorbanan jangka panjang, tapi hanya sekejap kejadian yang sakitnya menahun.
Pengorbanan bodoh ini bisa dibilang masih menjadi topik yang asik dibicarakan teman-temanku, lebih tepatnya diolok-olok. Jujur saja hal itu yang mendorongku untuk curhat di blog ini, karena aku sudah lelah. Mungkin mereka pikir ini sepele, tapi menyakitkan bagiku jika dibahas terus.
Pada suatu siang, kelasku ditunjuk oleh guru untuk menghadiri acara penting di suatu kampus, yang jaraknya puluhan kilo dari sekolah apalagi dari rumahku, sebagai perwakilan sekolah.
Sebagai murid-murid yang taat dan tidak suka pelajaran kitapun memilih untuk menyanggupi acara itu. Dengan berbekal kendaraan masing-masing, berangkatlah kita di sana. Tapi berhenti dulu di situ, ada beberapa teman yang tidak bisa membawa kendaraan sendiri sehingga berakhir dengan bonceng-boncengan. Aku boncengin temanku yang sebelumnya sudah kupeseni, aku ga bisa antar kamu balik sekolah karena rumahku akan semakin jauh dan dia menyanggupi.
Singkat cerita, ditengah acara aku dan 2 temanku yang rumahnya searah memutuskan untuk pulang duluan. Aku sudah pesan, nanti bareng ya. Disebabkan aku lupa jalan menuju jalan utama menuju daerah rumahku. Kedua temanku yang ternyata boncengan itu menyanggupi.
Gedung tempat acara itu memang besar sekali, parkirannya juga jauh padahal helm temanku yang ku boncengin saat berangkat masih di motorku. Jadilah ia mengikutiku ke arah parkiran, tapi sebelum itu dia panik karena setelah ambil helm dia kudu gimana dan harus pulang sama siapa. Akhirnya aku bantu dia cari tebengan dulu, dan sempat debat sana sini yang intinya adalah aku ditinggal kedua temanku yang rumahnya searah denganku.
Aku panik.
Rumahku puluhan kilo dari gedung itu, hp ku lowbatt, bensinku udah dititik merah. Padahal jalan utama menuju rumahku adalah jalan besar yang tidak akan ada pom bensin. Itu juga kalau aku tidak nyasar nyari-nyari jalan besar itu.
Akhirnya temanku itu dapat tebengan, tapi yang mau nebengi dia masih nanti pulangnya. Tapi ya tetap dong, helmnya dia di tempatku jadi harus dia ambil dulu.
Mau ga mau dia ikutin aku ke parkiran sambil lari karena aku ngejar kedua temanku yang udah hilang.
Setelah dia ambil helmnya, aku telepon kedua temanku ga diangkat. Aku berusaha hubungi mereka ga dibalas. Aku udah super duper takut.
Aku takut motorku mati di jalan, dan aku ga bisa hubungi siapa-siapa. Mana disepanjang perjalanan bakal jarang ada orang karena itu jalan besar, jarang ada toko.
Aku nangis.
Sementara temanku yang sudah ambil helm dan sudah kutungguin sampai nemu tebengan baru itu panik akan dirinya sendiri karena takut balik ke gedung yang jauh.
Sejauh-jauhnya gedung itu juga gedungnya masih sangat nampak, bahkan pintu masuknya juga nampak dan dia ga bakal nyasar karena masih banyak teman-teman lain serta guru di sana.
Akhir cerita kedua temanku ternyata berhenti dipinggir jalan, aku langsung tancap gas meninggalkan temanku yang sedang membawa helm dengan wajah kebingungan karena wajahku sudah merah karena menahan perasaan campur aduk ketakutan.
Keesokannya sampai detik ini jika kalian tahu apa olokan yang aku terima adalah aku adalah kanca tipis yang ninggalin temanku yang aku tebengin awal itu, padahal aku sudah.... ya begitu:) dan aku juga diolok-olok ga tahu diri.
Ya walau itu cuma olokan bercanda, tapi itu cukup menyakitkan hatiku. Ya aku marah kalo membahas hal itu lagi.
Bahkan temanku yang sudah kutunggu juga ngejekin aku begitu. Ya sudah lah, aku akan memilih diam. Padahal biasanya olokan bercanda apapun akan kutanggapi dengan seru-seruan, tapi untuk yang ini aku akan marah.
Karena jika kalian tau perasaanku saat itu, dimana rasanya seperti diantah berantah karena hp lowbatt, bensin sangat tipis, belum tahu jalan pasnya karena itu daerah yang luas dan besar.
Ya begitu kisahnya. Sebenarnya ada satu kisah lagi tentang diriku yang janjian untuk pergi ke suatu tempat bareng temanku. Kita janjian, supaya berangkat bersama dari rumah dia. Tapi aku tidak bisa menemukan rumah dia, padahal aku sudah dapat peta rinci menuju tempat acara. Tapi karena aku mendapat pesan dari sebuah buku "Tunggulah temanmu dimana kalian janjian kala badai atau hujan sekalipun."
Aku memilih untuk tetap mencari rumah temanku. Sampai pada akhirnya, ternyata temanku itu pergi duluan ke tempat acara tanpa sepengetahuanku sehingga aku telat acara tersebut. Dan berakhir aku mendapat julukan ratu nyasar karena paling lama nyasarnya padahal sebenarnya aku menanti temanku.
Pengorbanan sia-sia memang menyakitkan.
#sekiyan
No comments:
Post a Comment