Tuesday, November 18, 2014

Cerita Pojok

"Jangan bertanya aku siapa..."

     Kabut malam menghiasi kelopak mata seorang gadis yang tertutup akan hingar bingar seloroh malam Minggu, terkesan berkabut tapi hatinya tidak. Menanti kesannya indah dunia dan tak lama seperti kabut yang menyalak seseorang meneleponnya, seketika sang gadis melonjak seperti tersambar ketika tahu siapa yang meneleponnya. Inilah awal semuanya.

Sebenarnya tidak juga. Sungguh.

     Malam memisahkan pagi dengan gadis itu, ketika ia mengharap betul pagi akan datang tak lama ia menghabiskan waktu dengan orang di sana yang baru saja meneleponnya. Lonjakan kebahagiaan yang tak punya tembok bendung membuatnya gelisah.

Ini bukan awal, tapi sesudah awal. Percayalah kisah ini terbentuk sedemikian rupa.

     Setelah keesokan dan keesokannya lagi semenjak pagi yang ditunggu gadis itu, kelopak berkabut malam telah berubah menjadi pelangi, oh mungkin bintang atau mungkin matahari, entahlah yang aku tahu terangnya akan memecahkan retina matamu.

Sedikit yang aku tahu agar kau tak bertanya-tanya apa maksud cerita ini. Gadis itu jatuh cinta dan dengan 'siapa gerangan' penelepon itu. Entahlah tapi aku telah siap menumpahkan seribu satu ceritanya di sini. Tidak sebanyak itu.

     Entah di hari keberapa semenjak malam Minggu revolusi sang gadis, ia merasa semakin dekat dengan sang penelepon. Ia merasa sungai pijakan yang selama ini ada di hidupnya seperti bewarna, mungkin seperti tukang cat meninggalkan jejak biru, hijau, kuning, dan lain-lain.

Dia mulai gila.

     Suatu ketika, sangat beruntung sang gadis mengalami kesulitan pahit. Lagi-lagi ia sendiri, tidak kesepian tapi kini lebih parah, kesusahan.
Tumpahan tugas membuat kelopak kabut malam menghantuinya seperti bolpoin yang siap membentuk kesalahan kepada gerakan tangan. Lagi-lagi harus kusebutkan di sini, sang gerangan penelepon datang, aku tidak akan bilang dia akan menyerupai malaikat tapi lebih menyerupai gajah karena kedatangannya menghancurkan segalanya. Segalanya.

Jangan kecewa dengan ending ini. Terus lanjutkan.

     Sebut ia penghancur. Penghancur kesusahan sang gadis. Larut malam terus diterjang sang penelepon demi menjadikan sang gadis tak sendiri. Kesusahan yang saat itu dihadapi telah berubah menjadi pelangi yang siap dipijak dengan banyak kupu-kupu.

Ekspektasi sang gadis tak seperti ini kala itu. Mungkin, entahlah.

     Malam terus berlanjut. Awan tak henti menyampirkan dirinya di langit malam. Orang lalu lalang tak sempit jua. Kesibukan sang gadis terus memberat seiring malam tapi juga semakin ringan setiap sang penelepon memberikan bantuan penuh untuknya.
     Ia bahkan terus percaya bahwa senyum sang penelepon lebih dari cukup seperti medicine P3K yang selalu siap untuknya.

Baiklah, selesai sudah.
Belum.

     Akan kubeberkan sedikit. Dari awal sang penelepon adalah teman sang gadis.

Sekian.

"It's amazing, I'm in this maze with you..." - Sang Gadis

No comments:

Post a Comment