Friday, May 30, 2014

Aku Bisa !

Hai.

Akhirnya setelah sekian lama aku punya cerita menarik untuk aku ceritakan di sini.
Jadi langsung aku mulai saja cerita yang sebenarnya kurang mutu ini :))


Hari ini Jumat, 30 Mei 2014. Aku masuk sekolah seperti biasa. Mengikuti pelajaran seperti biasa, mengerjakan ulangan fisika juga seperti biasa. Tapi pada hari ini ada satu hal kecil yang tidak biasa. Aku ke sekolah bawa buah kedondong.

Kenapa aku bawa kedondong ? Karena hari ini akan diadakan #lotisKPK yaitu acara lotisan bersama anak-anak Katolik kelas X dan kelas XI dalam rangka mengakhiri masa rosarioan selama sebulan.
Sejak hari-hari sebelumnya aku sudah tidak sabar menunggu hari ini. Karena sama seperi #lotisKPK sebelumnya, acara ini selalu terselenggara secara meriah dan benar-benar terasa kekeluargaannya. Walau yang datang sepi sekalipun.

Pulang sekolah pukul 11.15 aku menuju taman barat atau  biasa disebut tambun untuk kumpul teater Jubah Macan. Kemudian setelah kumpul dan melakukan toss "Viva Teater, Viva Jubah Macan, Rawr!" kami semua langsung mencar-mencar. Aku memilih untuk mengejar Putrika, Noven dan Nina yang pergi ke TogaMas untuk beli kertas lipat.

Kemudian setelah itu kami menuju ke ruang KPK. Di sana jelas sudah ada Mb Arlin dan cs-annya yang selalu ontime dan tepat waktu. Dan benar-benar diluar dugaanku yang datang banyak untuk melakukan rosario terakhir ini dan jauh lebih banyak daripada rosario-an sebelumnya!!

Lalu rosario kami mulai pukul 1 siang ketika dua orang frater dari Bikompel-K (Bina Komunikasi Pelajar Katolik) datang sebagai tamu kita di siang hari itu. Seusai rosario kedua frater yang aku lupa namanya itu yaa biasalah melakukan kegiatan basa-basi dulu. Seperti perkenalan, dan bercakap-cakap. Lalu kami ngegame, dan sumpah seru abis ! Kedua frater ini memang selalu punya bahan untuk asik-asik.

Setelah ngegame kami langsung cuss serbu lotis yang sudah dihidangkan di ruang KPK. Yuhuuu~ Ini yang kutunggu-tunggu :D Aku gak bisa mendeskripsikan asiknya saat itu.

Lotisan udah, kenyang udah. Kami melanjutkan acara kita. Yaitu ngobrol-ngobrol sama kedua frater tadi. Kini si frater mengeluarkan sebuah pensil. Lalu ia meminta seorang relawan yang mau mematahkan pensil itu dengan satu jari. Mas Edgar sebagai relawan pertama, dengan mudahnya mematahkan pensil itu dengan satu jarinya.

Sebelumnya aku sudah pernah tahu teknik ini. Dan aku sering mencobanya tapi tak satupun berhasil. Jadi ketika si frater menyuruhku untuk menjadi relawan selnajutnya aku gak mau.

Beberapa relawan telah maju, ada yang berhasil ada yang tidak. Kemudian si frater merogoh sesuatu dari tas kecilnya. Beberapa pensil ia keluarkan -_- perasaanku sudah tidak enak saja. Pasti pada akhirnya semua suruh mencoba. Ternyata benar. Semua anak disuruh berpasang-pasangan, ada yang megangin pensil ada yang matahin. Aku berpartner dengan Noven. Noven yang kekeh tidak mau mematahkan, akhirnya aku deh yang bertugas matahin -_- Dan aku sudah pesimis.

Si frater menyuruh kami, yang bertugas mematahkan, untuk mengamati pensil itu. "Kenali medannya..." begitu kata si frater dengan nada serius. "Amati terus..." katanya lagi. Akupun melakukannya dengan sungguh-sungguh. Kemudian ia menyuruh kami untuk menutup mata. "Bayangkan tangan kalian adalah pisau. Dan pensil itu akan patah. Patah...Terus katakan pensil itu pasti patah...Patah...Terus katakan patah...patah...patah...patah...patah...patah..." Begitu terus dan aku mengucapkan sambil menghayatinya dalam hati dan pikiranku. Kemudian "Buka mata kalian ! Dan patahkan pensil itu !" Ckraakkk.... Sebatang pensil telah patah, yang separuh masih di tangan Noven, separuh lagi teruncal ke lantai. Dan seketika itu juga aku berteriak "WAAAA AKU BISAAAAAAA !!!!!!"

Lagi-lagi aku tidak bisa menceritakan euforianya kala itu. Ada beberapa yang berhasil dan beberapa yang tidak. Tapi setelah itu si frater tetap berusaha agar semuanya bisa. Kemudian aku sudah dijemput dan aku izin pulang duluan.



#sekiyan

No comments:

Post a Comment