Berhubung aku sedang lelah dan tidak punya kerjaan, aku berniat menulis sebuah surat untukmu yang tertunda sejak lama sekali. Aku tak berharap kau membacanya, tak juga berharap kau ingat siapa aku. Bahkan aku juga tak berniat untuk menulis siratan rindu dari setiap kata pada suratku ini. Percayalah, ini hanya surat biasa dengan pembuka, isi, penutup dan akan kutulis dengan cepat.
Hai! Bagaimana kabarmu ? Kuharap kau baik-baik saja. Ngomong-ngomong bagaimana sekolahmu sekarang ? Apa kau nyaman di sekolahmu ? Kuharap kau nyaman dan bahagia.
Ah sudah lama kita tak pernah berjumpa dan bercakap-cakap. Tapi aku masih ingat semua cerita konyolmu. Sudah lama aku tak pernah mendengar suara dari alat musik yang sering kau mainkan dan ah! Aku masih menyimpan fotomu ketika kau memainkan musik untukku, kau sangat lucu saat itu. Sudah lama juga kita tak pernah pergi bersama dan melakukan setiap hal konyol yang kita tahu sehingga kini aku tak bisa lagi mengisi galeri kameraku dengan sejuta senyummu dan senyumku dalam satu bingkai.
Sudah lama, ya, sudah lama semenjak aku ingin terus bersama...bersama. Entah bersama siapa. Tapi aku hanya menyiratkan tak pernah bersamamu. Aku yakin itu bukan sebuah siratan berdasarkan sebuah rindu ! Atau aku hanya... Ah sudahlah. Aku memang rindu ! Maafkan aku yang berbohong di awal tadi.
Jadi, emm, aku ingin tanya. Apa kau masih ingat janji kita ? Aku tahu kamu sudah tidak ingat. Sebenarnya mudah, hanya janji untuk bahagia selalu. Aku tahu, tahu sekali janjimu sudah kau tepati tapi tak ada aku bersamamu. Karena aku tahu hati kecilmu selalu berkata se ia dengan dia yang pasti bukan aku. Mungkin kini aku hanya bisikan dalam tidur, yang mungkin hanya terlintas sesaat dan tak nampak bagimu.
Baiklah aku akhiri saja suratku ini. Oh ya, sebelumnya aku hanya mau kau tahu, aku masih memimpikan dirimu. Semoga bahagia selalu seperti janji kita. Tetaplah jaga hatimu, karena bukan aku lagi senandung ketika kau tertidur.
Teruntuk kamu,
Yang Tak Perlu Kau Tahu
No comments:
Post a Comment