Wednesday, March 14, 2018

Abu-abu, Hitam, dan Nol

Aku sedang menghisap secangkir kopi hitam kala itu. Mendung dan hujan adalah sahabat karibku. Namun penawaran masih sama seperti dahulu, janji segelas es krim dan tur gratis mengelilingi kotaku sendiri. Miris. Seperti kata hatiku yang berlawanan dengan orang yang telah menyelesaikan perjalanan, aku harus menjadi orang yang menyenangkan. Sekalipun dengan hitamnya jalan aspal. Bodoh.

Kemudian tak lama sepasang gelas datang. Berwarna abu-abu, tertutup embun es yang mengendap di pelupuk mata. Aku menangis atau es ini mulai mencair? Tidak tahu, tertutup sudah dengan rasa manis yang menyelinap. Alunan lagu memendar, suara tawa lorong sebelah menyeruak, dentingan gelas menyaring.
Tawa; tawa; dan diam.

Kau nampak biasa saja dengan kasut itu, tidak seperti dahulu atau hari ini.


Selepas meninggalkan sekolah menengah, petuah-petuah dasar aku terima.
Bagaimana cara merangkai kalimat majemuk, memangkat angka-angka yang memiliki banyak nol, dan perkalian nol yang hasilnya akan nol.

Sebelumnya aku pernah tahu itu, di kapal menuju Selat Jawa. Ajaran tentang nol yang memiliki banyak makna tapi hilang selepas perjalanan menuju kota dengan kereta. Terbawa begitu saja di lintasan.

Tak berbekas.

Kau; majas; hilang; nol

No comments:

Post a Comment