Kemudian tak lama sepasang gelas datang. Berwarna abu-abu, tertutup embun es yang mengendap di pelupuk mata. Aku menangis atau es ini mulai mencair? Tidak tahu, tertutup sudah dengan rasa manis yang menyelinap. Alunan lagu memendar, suara tawa lorong sebelah menyeruak, dentingan gelas menyaring.
Tawa; tawa; dan diam.
Kau nampak biasa saja dengan kasut itu, tidak seperti dahulu atau hari ini.
Selepas meninggalkan sekolah menengah, petuah-petuah dasar aku terima.
Bagaimana cara merangkai kalimat majemuk, memangkat angka-angka yang memiliki banyak nol, dan perkalian nol yang hasilnya akan nol.
Sebelumnya aku pernah tahu itu, di kapal menuju Selat Jawa. Ajaran tentang nol yang memiliki banyak makna tapi hilang selepas perjalanan menuju kota dengan kereta. Terbawa begitu saja di lintasan.
Tak berbekas.
Kau; majas; hilang; nol
No comments:
Post a Comment