Tak ada satu kata pun yang terucap malam itu.
Kau diam bisu.
Denting waktu seolah berujar, kau telah membuang waktu.
Gelisah, selimut dan mimpi pun laksana hantu.
Hari ini,
Matanya kembali memukau mataku.
Dinding-dinding kokoh berisi nilai-nilai moral siap runtuh.
Egoku kembali luluh, aku kalah.
Tapi dia tidak.
Hari ini,
Aku membuka kembali memori-memori baik kita.
Di sinilah aku, dalam ilusi dan fantasi.
Tak perlu sayap untuk menggapaimu.
Karena kau pernah sejengkal nirwana.
Hari ini,
Aku mengetik tulisan ini.
Berharap bintang akan mengirimnya ke bimasakti.
Lalu kau akan membacanya.
Sebelum kau pergi.
Selamanya.
Kau diam bisu.
Denting waktu seolah berujar, kau telah membuang waktu.
Gelisah, selimut dan mimpi pun laksana hantu.
Hari ini,
Matanya kembali memukau mataku.
Dinding-dinding kokoh berisi nilai-nilai moral siap runtuh.
Egoku kembali luluh, aku kalah.
Tapi dia tidak.
Hari ini,
Aku membuka kembali memori-memori baik kita.
Di sinilah aku, dalam ilusi dan fantasi.
Tak perlu sayap untuk menggapaimu.
Karena kau pernah sejengkal nirwana.
Hari ini,
Aku mengetik tulisan ini.
Berharap bintang akan mengirimnya ke bimasakti.
Lalu kau akan membacanya.
Sebelum kau pergi.
Selamanya.
No comments:
Post a Comment