Saturday, July 11, 2015

Kupu-Kupu Putih

Aku ingin bercerita tentang sekelebat masa lalu padamu.Beberapa tahun yang lalu, tepatnya ketika aku SD. Aku punya obsesi terhadap kupu-kupu putih kecil, yang sebenarnya kupu-kupu pasaran yang semua orang pernah lihat.
Obsesi anak kecil yang polos, hanya ingin menangkap kupu-kupu itu lalu dimasukkan ke toples.

Hampir setiap hari di halaman belakang rumah aku selalu mengejar kupu-kupu itu, awalnya aku berpikir itu adalah kupu-kupu yang sama, yang setiap sore ku kejar. Aku tidak pernah menyadari jika kupu-kupu seperti itu ada banyak sekali.

Hingga pada suatu hari, aku nyaris menangkap kupu-kupu putih kecil tak berdosa itu. Sudah sampai pada ujung bibir toples, tapi tidak pernah kusangka sebelumnya tiba-tiba ia mati.

Rasanya kaget.

Rasanya ingin menangis.

Aku sudah berdosa.

Kupu-kupu itu jatuh bergitu saja sebelum benar-benar masuk ke dalam toples yang sudah kusiapkan. Pikiran anak kecilku pada saat itu melayang-layang, apakah dia lelah selalu ku kejar? Apa selama ini aku telah menyakitinya? Apa yang telah terjadi? Padahal ku kira beberapa detik yang lalu dia baik-baik saja.

Baik-baik saja

Baik saja.

Saja.

Sejenak ku mengalami jamais vu.
Kemudian kembali menatap kupu-kupu malang, yang kupikir sudah kubunuh.

Semenjak itu aku berjanji tidak akan pernah menangkap kupu-kupu apapun. Sekalipun beberapa hari yang lalu aku menemukan lagi kupu-kupu serupa. Pikiran kecilku kembali berkhayal, mungkinkah itu adalah reinkarnasi?

Apapun itu, perasaan bersalah tetap ada hingga detik ini.
Biarkan ia berlalu sebagai pelajaran kecil.
Perasaan bersalah yang mengajariku bermacam hal.
Perasaan kehilangan yang akan terlatih dengan sendirinya untuk selalu mengikhlaskan.
Perasaan sedih yang terawat dan dapat sembuh dengan cepat.

Aku harap akan begitu terus ya, kupu-kupu kecil.

No comments:

Post a Comment