Sunday, February 15, 2015

Never Let Me Go

Ketika jenuh sudah dititik puncaknya. Seakan tidak ada yang bisa menghentikannya, seakan pekerja yang giat bekerja kan selalu bekerja hingga lelah dan jenuh akan terus jenuh hingga entah apa yang bisa menamakan kelanjutannya.

Jujur aku jenuh, akan segala rutinitas, akan segala dunia riuh yang padat. Aku jenuh dengan tugasku, aku jenuh dengan semua jadwalku, jenuh harus selalu pergi ke tempat yang sama tiap hari.

Tapi Ia selalu memberi jalan terbaik untuk jenuhku sebagai penawar. Ada teman-teman yang sama tiap hari tapi tidak pernah membosankan karena mereka membawa lebih dari segudang warna untuk hari-hariku. Terima kasih.

Lalu aku juga jenuh, dengan sesuatu yang fana, tidak pasti, seperti bayang-bayang yang mengincarku dalam terang juga gelap. Yaitu kamu. Aku tahu kamu punya lebih dari semesta warna untukku setiap hari, tapi sekarang seakan semesta itu bocor sehingga warnanya berkurang kemudian lama-lama hilang. Membuatku sukar gembira denganmu lagi. Padahal aku berharap kau punya banyak cadangan entah di semesta mana lagi tapi tampaknya kau hanya begitu. Kamu begitu.

Kemudian aku ingin minta maaf, entah aku meracau apa mungkin siapapun yang baca akan mengira aku egois tapi ini bukan untuk mereka tapi hanya untukmu. Kamu. Aku hanya tidak ingin pergi, jadi aku mohon jangan biarkan aku pergi.



#sekiyan

No comments:

Post a Comment