Saturday, August 23, 2014

Untuk Aca

Melihatmu dalam diam.
Melihatmu dalam tawa.
Melihatmu dalam susah dan derai mata.
Melihatmu kala kau gila dan terjungkal akan lucunya dunia.

Aca,
Maaf selama ini aku terlalu sibuk dengan duniaku sehingga kala bertemu denganmu hanya seperti angin lewat saja. Kata sapa yang ingin kulontarkan ketika kuingat seharusnya aku menyapa dirimu menjadi debu yang terbang waktu angin lewat di hadapanku. Sehingga hanya berakhir dengan sejepret gambar dirimu yang kemudian berusaha kuhapus dalam memori.

Aca,
Aku benci ketika harus pergi walau esok akan bertemu lagi. Seakan aku ingin merangkul ragamu dan tak ingin kulepaskan. Tapi seakan tubuhmu seperti tak terjangkau, kala terjangkaupun rasanya sangat susah untuk mempertahankannya lebih lama untuk tak jauh-jauh denganku.

Aca,
Apakah kamu ingat waktu malam panjang yang tak ada habisnya kita bergurau hingga larut malam ? Seakan tak ada dunia selain milik kita, bagiku. Aku yakin kau lupa dan hanya menganggapnya seperti malam-malam biasanya. Tapi aku berharap, Aca. Kau mengingatnya. Menurutku itu istimewa.

Aca,
Ya sudah, Aca. Cukup ini yang aku tulis. Terima kasih telah menjadi bayang dalam gelapku, dan tawa semu dalam terangku.

2 comments: